Minggu, 06 Mei 2012

Unsur Demokratisasi Teks Puisi Sajak Anak Muda Karya WS. Rendra (Suatu Tinjauan Sosiologi Sastra)


Unsur Demokratisasi Teks Puisi Sajak Anak Muda
Kenyataan yang digambarkan dalam puisi Sajak Anak Muda adalah kenyataan yang dialami oleh golongan masyarakat yang menderita, yakni kaum buruh dan tani. Penggambarabn kenyataan tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan pertentangan kelas, yakni bangkitnya kaum buruh dan tani untuk melawan kaum borjuis atau kapitalis bahkan pemerintahan.
Teks puisi Sajak Anak Muda adalah sebagai berikut:
  Sajak Anak Muda
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik.
dan tidak diajar dasr ilmu hukum

kita melihat kabur pribadi orang
karwena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
Untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
Untuk menjadi alat saja?

Inilah gambaran rata-rata
Pemuda tamatan S.L.A.,
Pemuda menjelang dewasa

Dasar pendidikan kita adal;ah kepatuahn
Bukan pertukaran pikiran.

Analisis Stilistika (Versifikasi) Elong Sagala

A. Konsep Dasar Stilistika
Secara etimologi stylistics berhubungan dengan kata style, artinya gaya sedangkan stylistics dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Stilistika diperoleh dari khalayak. Gaya semacam ini merupakan asumsi pembaca atau audience yang mengarah ke faktor resepsi.
Ada dua pendekatan analisis stilistika: (1) dimulai dengan analisis sistematis tentang cara sistem linguistic karya sastra dan dilanjutkan ke interpretasi tentang ciri-ciri sastra, interpretasi diarahkan ke makna secara total; (2) mempelajari sejumlah ciri khas yang membedakan satu sistem dengan sistem lain. Maksudnya mencari seberapa jauh penguasaan gaya bahasa pengarang dan seberapa jauh manipulasi bahasa yang digunakan untuk menciptakan kesan estetis pada karya sastra.
Beberapa pokok persoalan yang harus menjadi tekanan dalam penelitian stilistika, menurut Semi (1993: 82-83) ada beberapa hal yakni: 
    1. Analisis hendaknya juga menyentuh masalah unsure keseluruhan karya sastra, seperti tema, pemikiran dan aspek makna yang berkaitan lansung dengan gaya bahasa
    2. Analisis seyogyanya menggunakan analisis structural, namun kajian bahasa diperdalam, sampai pada pemilihan kata, symbol dan sebagainya 
    3. Analisis samapai pada upaya membuka kekaburan pemanfaatan ragam karya sastra absurd, abstrak, dan eksperimental sehingga memudahkan pembaca memahaminya. 
    4. Analisis difokuskan pada corak individual yang khas dari penulis, karena setiap penulis yang telah mapan tentu mempunyai gaya bahasa tersendiri 
    5. Analisis gaya bahasa juga dapat difokuskan pada gaya kelompok pengarang, angkatan tertentu sesuai dengan falsafah hidup mereka masing-masing’ 
    6. Analisis gaya bahasa juga dapat diarahkan pada kalimat, paragraf, wacana kalau berbentuk prosa bahakan sampai pada bahasa dialek 
    7. Analisis juga sebaiknya sampai tingkat perwatakan tokoh, karena gaya bahasa tertentu akan menjadi ciri tokoh juga 
    8. Suatu saat perlu dikaitkan dengan kajian resepsi sastra, sehingga dapat dimengerti kemampuan membaca memahami gaya bahasa tersebut.
Langkah-langkah analisis yang perlu dilakukan dalam kajian stilistuika sastra adalah sebagai berikut:
    1. Tetapkan unit analisis, misalkan berupa bunyi kata, frase, kalimat, bait dan sebagainya 
    2. Dalam puisi memang analisis dapat berhubungan dengan pemakaian aliterasi, asonansi, rima dan variasi bunyi yang digunakan untuk mencapai efek estetika 
    3. Analisis diksi memang sangat penting karena ini tergolong wilayah kesastraan yang sangat mendukung makna dan keindahan bahasa. Kata dalam pandangan simbolis tentu akan memuat lapis-lapis makna. Kata akan memberikan efek tertentu dan menggerakkan pembaca 
    4. Analisis kalimat ditekankan pada variasi pemakaian kalimat dalam setiap kondisi 
    5. Kajian makna gaya bahasa juga perlu mendapat tekanan tersendiri. Kajian makna hendaknya sammpai pada tingkat majas, yaitu sebuah figurative language yang memiliki makna bermacam-macam.
Konsep dasar dari stilistika sastra, yaitu stilistika sastra hendaknya sampai pada dua hal, yaitu makna dan fungsi. Makna dicari melalui penafsiran yang dikaitkan ke dalam totalitas karya, sedangkan fungsi terbersit dari peranan stilistika dalam membangun karya.
B. Analisis Stilistika (Versifikasi) pada Elong Ugi (Elong Sagala)

Elong Sagala

Elong Ugi merupakan sebuah karya sastra kalsik yang memiliki susunan kata yang unik sehingga dapat dianalisis dengan menggunakan stilistika sastra. Elong Ugi khususnya Elong Sagala bukan hanya dapat dipandang dari nilai estetisnya tetapi juga dari nilai fungsinya sebagai mantra penyembuh penyakit atau berupa resep obat. Nilai fungsi tersebut diimplementasikan dalam bentuk elong. Contoh dari Elong sagala yaitu sebagai berikut:

Analisis 

  1. Unit Analisis yang menjadi unit analisis dalam analisis ini yaitu berupa kata, frase, bait  serta secara structural berupa kohesi maupun koherensi jika ada dalam elong tersebut, yaitu dalam Elong Sagala. 
  2. Versifikasi (Rima, Ritma dan Metrum)
  • Rima pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengukangan bunyi itu puisi menjadi merdu jika dibaca. Untuk mengulang bunyi itu, penyair juga mempertimbangkan lambang bunyi. Dengan cara ini, pemilihan bunyi bunyi mendukung perasaan dan suasana puisi.
Dalam elong ugi sagala terdapat Rima atau pengulangan bunyi yang terdapat pada bait pertama samapai bait keempat dengan bertumpu pada pengulangan vocal /e/ yang memberikan kesan estetis yang berdampak pada kesan mitos bahwa elong tersebut berupa mantra yang dapat menyembuhkan penyakit.
Semmeng-semmeng Rimulanna
Lasa Ulu Remmeng-remmeng
Peddi mata eja-eja
Ore-ore mangkawani
Vocal /e/ mewarnai secara dominan keempat larik elong tersebut dengan pengulangan vocal seperti pada kata  Semmeng-semmeng, Remmeng-remmeng, eja-eja, dan Ore-ore. Apabila dianalisis lebih jauh penempatan kata yang berima tersebut diatur sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan bunyi yaitu kata Semmeng-semmeng diletakkan pada larik pertama dan dipasangkan dengan kata Remmeng-remmeng pada larik ke dua yang apabila dianalisis memiliki kesamaan struktur pembentukan kata yang terletak pada kesamaan vocal /e/ dan konsonan /m/ yang jumlahnya sama. Kemudian pada larik ketiga terdapat kata eja-eja yang dipasangkan dengan kata ore-ore pada  larik keempat kesamaan yang ada pada kata tersebut yaitu jumlah vocal /e/ pada kata tersebut yang sama yaitu satu.
Selain itu pada akhir bait pertama dan bait ketiga terdapat pengulangan bunyi vocal /a/ yang serupa dengan pantun yang dalam ilmu stilistika disebut sebagai asonansi yaitu ulangan bunyi vocal pada kata-kata tanpa selingan bunyi konsonan dalam elong tersebut. Bunyi tersebut menimbulkan kesan estetis yang luar biasa dan hal tersebut terdapat pula pada larik-larik selanjutnya khususnya pada larik-larik terakhir dalam elong tersebut. Sedangkan aliterasi terdapat dalam kata-kata seperti Semmeng-semmeng, Remmeng-remmeng, eja-eja, Ore-ore, Panreng pole Palipu, Pammana pariang pole ri maiwa dan lain lain,  yang terdapat persamaan bunyi pada suku kata pertama.
  • Ritma dan Metrum
Ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhuungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa dan kalimat.. Ritma merupakan pertentangan bunyi; tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan.
Peddi /Babuwa mengellu
Maccamanikna/ Sagala
Mangidengngi/ camanik e
Tebbusurekna/ Tampangeng

Bait elong tersebut terdapat pengulangan bunyi a,i,a,i pada awal kata setiap larik elong, tetapi kurang sempurna karena tak diikuti oleh pengulangan bunyi pada penggalan kedua.Sedangkan metrum berupa pengulangan tekanan kata yang tetap terdapat pada larik pertama elong tersebut, yaitu:

Semmeng-semmeng Rimulanna
Lasa Ulu Remmeng-remmeng
Peddi mata eja-eja     
Ore-ore mangkawani 
Peddi Babuwa mengellu        
Maccamanikna Sagala
Mangidengngi camanik e
Tebbu surekna Tampangeng
           
Metrum yang terdapat dalam elong tersebut yaitu tekanan kata pada akhir larik pertama(Rimulanna)dan kedua (Remmeng-remmeng) yang keras kemudian disusul oleh tekanan kata pada akhir larik ketiga (eja-eja) dan keempat (mangkawani) yang melemah, larik kelima (mengellu) yang menguat kemudian larik keenam (Sagala) yang melemah dan seterusnya sampai larik berikutnya

"Tulisan ini hanya untuk mengingatkan saya pada rutinitas di bangku perkuliahan dulu, saat harus bergelut dengan tugas kuliah yang menumpuk, makalah yang mesti jadi  dalam semalam, mesti kerja tugas meski dalam kondisi yang tak stabil dan dibalik semua itu ada sebuah kenangan yang tak bisa dilupa yaitu kesetiaan seorang sahabat dalam memberikan bantuan untuk menopang saya dalam setiap kesulitan. Entah itu saat final, saat kerja kelompok, dan bahkan saat kerja tugas individu. Terima kasih kawan aku rindu ruangan DH tempat kita berbagi tawa dan duka" 

Sabtu, 05 Mei 2012

Euforia Utopis di Tengah Generasi Culas (Refleksi Peringatan Hari Pendidikan Nasional)

Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani” Istilah ini mungkin sudah sangat melekat di telinga orang Indonesia, apalagi bagi mereka yang telah pernah atau sedang mengecap pendidikan. Sebuah ungkapan atau bisa saya sebut sebagai falsafah yang memuat tujuan pendidikan yang seharusnya secara utuh. Bahwa hakikat dari tujuan pendidikan bukan hanya untuk mencerdaskan dari segi Intelegence Quation (IQ) tetapi juga dari segi Emotional Quation (EQ) dan Spritual Quation (SQ). Hal tersebut sebenarnya tertuang dalam ungkapan atau lebih tepatnya ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara tersebut. Ajaran tersebut mengajarkan dan mengharapkan orang yang menjadi peserta didik disamping  dapat menjadi suri tauladan atau panutan, juga  mampu menjadi motivator, inisiator, serta penggugah semangat dan pemberi dorongan moral agar masyarakat di sekitarnya merasakan arti penting dari “Orang Terdidik”
.
Hal yang sangat ideal dan merupakan cita-cita mulia dari para pejuang pendidikan di negara ini. Tentunya hal ini juga menjadi cita-cita dari setiap pemerintah dan masyarakat Indonesia. Sama seperti koin yang memiliki dua sisi, seperti itu pula masa depan penddikan di Indonesia saat ini. Satu sisi ada harapan agar cita-cita ideal yang tertuang dalam semboyan Tut Wuri Handayani dapat terwujud dan di sisi lain ada perasaan skeptis cita-cita tersebut dapat terwujud melihat semrawut pendidikan di negara ini.

Kebijakan Kontra Rakyat di Negara yang Pseoudo Independence


Kemerdekaan yang Pseudo
Membincang tentang Indonesia, maka akan membincang tentang panggung drama yang bak sebuah cerita sinetron yang tak ada putusnya. Sebuah drama kehidupan yang terjadi bagai sebuah siklus panjang yang terus berulang. Korupsi, rasis, terorisme, bahkan kejadian seperti banjir, pencurian, pemerkosaan maupun pelecehan seksual menjadi perbincangan sehari-hari di media-media massa dan layaknya sudah menjadi menu wajib yang harus dikonsumsi oleh masyarakat. Para pemimpin yang dengan mudah mengeluarkan kebijakan tanpa pernah memikirkan efek dari kebijakan tersebut, bawahan yang mengatasnamakan dirinya rakyat yang dengan mudah memprotes setiap kebijakan dari pemerintah yang seolah tak ada kebijakan yang benar, bahkan sangat miris rasanya melihat insan terdidik (red: Mahasiswa) yang mengaku sebagi agent of change, social control, and stock holder yang tahunya hanya memprotes tanpa pernah ada solusi. Apakah memang sudah tak ada sinergitas? Aku lantas teringat pada sebuah kalimat bijak dari Emha Ainun Najib “ Ketika negara sudah tak mampu lagi mengakomodir kepentingan rakayatnya, maka sudah sepatutnya negara itu dibubarkan”. Apakah ini yang mereka cari? Kalau itu yang mereka cari, maka aku yang akan menjadi orang pertama yang kontra terhadap mereka. Karena memaknai negara, memaknai bangsa dan memaknai Indonesia bukan dengan cara memaknai kata I-N-D-O-N-E-S-I-A.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...