Minggu, 12 Agustus 2012

Harap Pupus

Tak di awal kau hadir memberi kabar akan janji
janji hilang tanpa dekap
Sejuta harap gugur di kau
Memberi harap menghapus harap

Kita kembali ke hilir
Kudapat kau dalam maya
Saling termangu dalam diam kata
Kemudian terusik dengan satu kata
"Cinta"?

Lara panjang melenguh antara sungging
Bahak hilang berganti tetes
Kita pun bertemu di sudut makna

Enggan kita tak congkak
Harap kita bertemu malu
Tergilas kita dalam angkuh


Jumat, 10 Agustus 2012

Ramadhan Tahun Kemarin

Edisi Ramadhan tiap tahunnya memberikan warna tersendiri dalam diriku. Ada nuansa berbeda di setiap edisinya, ada cerita yang senantiasa terekam dalam setiap pergulirannya dan ada tempat berbeda bagiku di setiap tahunnya dalam ramadhan. Entah karena apa aku sangat merindukan suasana bersahur dan suasana berbuka sama seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya, aku sangat merindukan sahabat-sahabat saya di asrama, di Himpunan Mahasiswa dan juga di Organisasi Kesenian Kampusku dulu, walaupun sebenarnya aku merasa sangat bahagia di "keluarga nalarku" sekarang. Namun tentunya aku tak bisa melupakan sekian banyak cerita yang terjalin dengan mereka. Sekadar untuk mengabadikan sepenggal kisah tersebut aku mencoba untuk mengbadikannya dalam tulisan ini.

Ramadhan Tahun 2008

Ramadhan waktu itu adalah untuk pertama kalinya saya menikmati ramadhan terpisah dari orang tua. Aku melewati Ramadhan waktu itu di rumah ke dua saya (Asrama Putra IPPM Pangkep Koordinator UNM). Aku menemukan nuansa berbeda saat itu, aku yang dulunya hanya tinggal bangun untuk sahur kini harus mulai belajar untuk memasak sendiri, begitupun saat waktu berbuka tiba. Setiap sorenya setelah adzan Ashar berkomandang tim penyedia buka puasa (penghuni asrama) mengumpulkan uang yang akan digunkan untuk hidangan berbuka puasa dan bersahur. Aku sangat suka belanja di pasar jika hari itu adalah tugas piket saya. Teman-teman pastinya sudah tahu kalau saya yang pergi belanja pasti hidangannya tak lepas dari es buah, timun suri (kami menyebutnya haddis), sayur bening (bayam campur jagung manis), tempe goreng crispy dan tentunya cobek-cobek kacang. Aku waktu itu selalu pergi belanja bersama dengan salah satu senior saya di asrama karena waktu itu aku belum tahu jalan-jalan di Makassar (maklum masih mahasiswa baru).

Ada banyak hal yang menarik yang saya dapat, tahun itu aku mulai belajar bangun cepat untuk memasak, memanajemen uang belanjaan agar cukup untuk berbuka dan sahur, belajar memasak dan menyadari bahwa makanan sederhana pun akan terasa nikmat jika disantap bersama. Aku sangat ingat ketika pertama kalinya saya mendapat giliran memasak untuk hidangan sahur, hari itu di tim saya mendapat tugas untuk membuat cobek-cobek (sambal). Sesuai dengan kebiasaan di rumah, saya hanya membuat sambal dengan 7 buah cabe. Hasilnya menurut saya sudah enak dan pedas, tapi ternyata beluim cukup 1/4 dari penghuni asrama yang mengambil sambal tersebut telah habis. Mereka makan sambal layaknya makan sayur, katanya sambalnya mirip sayur (kurang pedas). Akhirnya aku tahu kalau kebiasaan mahasiswa kalau buat sambal harus pedas. Pernah juga kami harus rela minum di kram air, kami dulu menyebutnya Air Anugrah singkatan dari anu gratis, maklum saat itu kami lupa membeli galon.

Pemandangan piring-piring tergeletak, rebutan bantal dan sembunyikan kasur saat pulang teraweh, membagikan piring yang berisi cobek dan potongan tempe merupakan pemandangan yang tiap hari menghias rumah mungil kami. Aku juga ingat ketika sanatapan buka puasa kita belum selesai saat adzan magrib telah berkumandang dan kita berpencar ke mesjid-mesjid dekat rumah. Aku juga ingat ketika seorang kakak yang hendak menggoreng telur dan ternyata telurnya bukan lagi sebuah telur tetapi anak ayam, dan lucunya lagi karena ia baru menagatakan hal tersebut saat kita telah kenyang memakan telur goreng tersebut dengan lahapnya. Satu hal yang tak pernah lepas setelah sahur adalah "Ngeteh", ini adalah agenda wajib bagi "kakak kacamata" yang akhirnya menular bagi kami. Di saat itulah kami (mahasiwa baru) mengakrabkan diri dengan mereka, bertanya ini itu meskipun sebenarnya gak penting. Intinya aku senang berada di linkungan itu.

"Keromantisan kadang lahir di meja makan"


Ramadhan 2009-2010


Bukber di Tonasa
Tak ada perbedaan yang terlalu mencolok anatara ramadhan sebelumnya dan ramadhan pada saat itu, hanya saja aku telah memiliki satu dan akhirnya dua adek yang berarti saya sudah tak menjadi adek bungsu lagi di keluarga besar itu. Kami kadang keluar buka puasa bersama untuk memenuhi undangan dari instansi pemerintah daerah, pengusaha lokal pangkep, atau undangan senior-senior yang telah sukses. Suasana makan bersama dan jugfa naik pete-pete secara berdesak-desakan kadang mewarnai ramadhan kami. Kadang pula kami harus berangkat mulai dari pukul 15.30 karena perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh.


Satu yang berubah pada Ramadhan tahun itu adalah pindahnya Asrama Putri menjadi lebih dekat dengan asrama putra. Hal tersebut mempermudah kami dalam membuat hidangan berbuka puasa dan juga hidangan bersahur karena akan dibantu oleh kaum hawanya, itu sih harapnya kami. Tapi toh nyatanya kami merasa kami lebih jago memasak dari kaum hawanya, selera kami mungkin yang berbeda. Hampir setiap harinya hidangan sahur kami jauh lebih lengkapa dengan mereka kecuali hidangan berbuka puasa karena kami buka puasa bersama mereka.

Bukber sekaligus peresmian rumah baru
Selain berinteraksi dengan keluarga pertama saya di Makassar (IPPM), saya juga mulai berinteraksi dengan organisasi internal kampus. Keluarga pertama saya di kampus adalah Himaprodi kemudian Bemgkel Sastra. Di dua organisasi tersebut aku kadang berbuka puasa bersama, untuk di Himpunan dua tahun berturut-turut pengkaderan diadakan tepat di bulan Ramadhan. Pengkaderan tersebut tentunya menjadi agak berbeda, pengkaderan tersebut penuh dengan nuansa religi. Satu hal yang tak bisa saya lupakan adalah momen pertandingan pembuatan hidangan buka puasa. Tak ada kata yang bisa kuucap selain kata seru dan keren.

Aku merasakan suasana yang sangat berbeda di Bengkel Sastra, aku merasakan keakraban seorang sahabat di sana. Tak ada pembagian piket dan tak ada yang bekerja sedang yang lainnya tidur, kami saling membantu. Mungkin jumlah kami disitu yang kurang banyak. Setiap berbuka puasa tak ada yang terlalu berbeda, kami kadang berbuka puasa bersama para aktivis organisasi kampus pada saat itu. Atau kadang pula bersama para Mahasiswa baru yang dibuatkan jadwal membuat hidangan berbuka puasa. Namun, hal yang sangat berbeda ketika sahur, setiap jam 2 pagi kami keluar membeli ikan kering di pasar yang selalu terbuka 24 jam. Pasar tersebut bukanlah pasar yang jaraknya dekat dengan kampus. Dengan lauk ikan kering dan nasi panas serta cobek-cobek seadanya terasa nikmat, mungkin karena kami menikmatinya bersama dengan alas daun pisang. Kami pun kadang buka puasa bersama dengan Pekerja Seni Kampus dari universitas lain, yah sekadar menjalin hubungan silaturahmi.

Hari-hari tersebut kini menjadi sebuah kenangan dan sangat sulit untuk saya nikmati kembali. Ingin ku merasakan kebersamaan itu lagi.


" Sahabat, Aku tak pergi. Aku hanya punya tanggung jawab yang lebih besar di tempat lain. Semua kenangan itu tak akan kulupa dan di sini pun aku menemukan keluarga seperti kalian". Aku akan datang esok atau lusa tuk mengulang kisah itu, meskipun kutahu tak mungkin sesempurna dulu"


Ramadhan 2011

Ramadhan tahun kemarin adalah Ramadhan pertama saya di keluarga besar LPM Penalaran UNM. Saat itu saya menjabat sebagai Staf bidang Humas di lembaga tersebut. Perbedaaanya tak terlalu jauh dengan ramdahan sebelumnya, masih dengan asas kekeluargaannya. Kali itu aku menikmati Ramadhan setelah mempunyai satu adek. Adek yang baru saja dikukuhkan di lembaga tersebut. Setiap sorenya dibuatlah jadwal buka puasa yang diisi baik oleh pengurus, anggota, dan juga alumni. Disinilah saya melihat bahwa lembaga kami melihat unsur kesenioran sebagai unsur hubungan kakak adek, karena tak hanya adek yang bekerja tetapi juga kakak yang bekerja bersama-sama.

Setiap berbuka puasa, kami berkumpul bersama di ruang tengah dan menikmati hidangan tersebut. Kadang terselip canda dengan memberikan penilaian layaknya sebuah penjurian dalam kontes masak. Hal tersebut tentunya bukan untuk saling menjatuhkan tetapi tak lebih sebagai sebuah candaan uintuk mengakrabkan.

Ada yang sangat istimewa pada Ramadhan tahun itu, aku menikmati puasa pertama di luar Sulawesi. Aku menikmati bulan Ramadhan di kota Malang dalam rangka mengikuti Rapat Kerja Nasional Ikatan Lembaga Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Indonesia. Aku bertemu dengan sahabat-sahabat baru di sana. Satu yang istimewa adalah saya bertemu dengan seorang yang sempat mebuatku kagum pada saat itu, tapi rasa minder masih berselimut di dadaku pada saat itu. Aku akan menceritakan secara lebih detail tentang Ramadhan di kota Malang pada tulisanku berikutnya #buru-buru untuk bersiap-siap shalat Jum'at

Minggu, 05 Agustus 2012

Memaknai 17

"Aku", maaf jika dalam setiap tulisanku teori keberakuanku terlalu tinggi, namun itu bukanlah esensi dan substansi dari apa yang ingin kutuliskan. Pagi yang ranum ini aku akan sedikit menuliskan persefsi dan alasan mengapa saya sangat suka dengan beberapa angka-angka khususnya angka 17. Aku sebenarnya bukanlah orang yang terlalu percaya dengan mitos akan hoki dari sebuah angka, namun ini bukanlah keyakinan atas hal tersebut. Aku suka angka itu mungkin sama seperti aku mencintai seorang wanita, dimana aku tak bisa mendefinisikan dan memberi batasan akan hal tersebut. Kali ini aku akan menuliskan akan sejarah yang tertoreh di setiap angka 17 dan memaknai angka 17 dari berbagai aspek dan sudut pandang.
Berikut ini akan saya tuliskan keistimewaan angka 17 yang saya rangkum dari berbagai sumber dan saya kembangkan dari pergulatan nalar saya, mari memaknai angka 17:
  1. Angka 17 terdiri dari dua angka, yaitu angka 1 dan angka 7. Aku sangat suka dengan angka 1, mungkin karena angka itu melambangkan kekuasaan, prestasi, kualitas dan tingkatan tertinggi apabila kita berbicara tentang strata. Aspek kekuasaan, prestasi, kualitas dan starata tertingggi sering dilambangkan dengan kata "Nomor 1". Tak hanya itu dalam islam angka 1 melambangkan akan ke-Esaan, Maha Satu, Maha Agung atau Al-wahid Tuhan. Angka satu pun melambangkan akan kebaruan atau pertama. Sedikit mengutip kalimat dalam film 3 Idiots bahwa "yang pertama akan selalu diingat dan setelahnya entahlah" maka manusia senantiasa menjadi orang yang pertama dan mengukir sejarah. (begitupun mungkin dengan ciuman pertama #hehehe). Sedangkan angka 7 sangat banyak yang menemukan keunikan dengan menulikan angka ini, misalnya:

    > Keajaiban dunia meskipun selalu mengalami perubahan tetapi selalu berjumlah 7 dan disebut dengan  7 keajaiban dunia.
    >7  Lapis langit dengan dasar Surah Al-Baqorah ayat 29 sebagian ulama menyebutkan ( Lapisan Troposfer, Stratosfer, Ozonosfer, Mesosfer, Termosfer, Ionesfer dan Eksosfer)
    >7  Samudera (Pasifik Utara, Pasifik Selatan, Atlantik Utara, Atlantik Selatan, Hindia, Antartika,& Artik)
    >7 Benua (Asia, Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Eropa, dan Antartika)
    >7 Lapis bumi
    >dan 7 hari dalam seminggu
  2. Sebuah keistimewaan angka 17 pun terlihat pada jumlah rakaat Shalat Fardhu dalam sehari semalam yaitu 17 rakaat.
  3. Hari turunnya Al-Quran menuliskan keistimewaan angka 17, Al-Quran turun pertama pada tanggal 17 Ramadhan di Gua Hira.
  4. Akupun sebagai manusia yang dilahirkan di Indonesia bangga dengan tanggal kemerdekaan Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
  5. Hal yang agak aneh pun sering aku dengar bahwa 17 tahun adalah pembatas antara kanak-kanak dengan remaja. Umur 17 tahun dianggap sebagai masa transisi dari segi pemikiran dan mungkin juga secara fisiologis dari anak-anak menuju sebuah kedewasaan.


    Entah, karena keistimewaan tersebut atau  karena alasan lain sehingga aku suka pada angka 17, akupun tak dapat mendeskripsikannya secara jelas.

    Sumber Pustaka: Makna di Balik Angka 17 dan Keistimewaan Angka 17


Sabtu, 04 Agustus 2012

Belajar dari +1

Sumber Gambar
Optimis adalah kata yang mudah sekali saya lisankan, saya tak perlu belajar pronounsecion untuk mengucapkan kata tersebut. Saya pun berpersefsi bahwa bocah sekolah dasar pun akan sangat mudah mengucapkan kata tersebut. Apa yang istimewa dari kata tersebut? Banyak kisah-kisah heroik, legenda, maupun mitos yang seakan mengungkapkan bahwa keyakinan dan rasa optimis jauh lebih kuat dari kekuatan fisik itu sendiri. Hal tersebut bukanlah sebuah hoaks atau common sense belaka bagi saya. Saya menganggap bahwa ada hubungan kausalitas antara mimpi, keyakinan dalam hal ini optimisme, usaha dengan sebuah pencapaian. Sebuah kesadaran yang kadang naik turun masih ada dalam diriku, rasa pesimis kadang hinggap, untungnya Tuhan menciptakan orang-orang yang selalu percaya pada mimpinya di sekelilingku dan harus kuakui merekalah inspiratorku.


“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” - Arai”

Andrea Hirata mencoba menggambarkan kekuatan mimpi dan optimisme lewat tulisan dan filmnya. Hal tersebut sangat menggugah bagiku, tapi aku masih ingat sebuah kalimat bahwa "Memancing jauh lebih berkesan daripada mendengar cerita tentang memancing". Aku mencoba meyakini mimpi-mimpiku sejalan dengan pengalaman empiris yang saya lalui dan pengalaman hidup "para sang pemimpi" di sekelilingku. Aku sangat ingat akan seorang sahabat sebut saja namanya +1, ia sangat suka memakai identitas tersebut. Entah karena apa, tetapi saya yakin itu adalah sebuah simbol positif dalam membangun kepercayaan diri dan menebar rasa optimis bagi sahabat-sahabatnya. Aku ingat kala pertama melihat hasil tulisan pertamanya, aku dapat mengatakan bahwa tulisan tersebut sangat jauh dari tulisan seorang mahasiswa. 


Aku saat itu dapat berpikir seperti itu karena aku merasa bahwa saya dapat menulis lebih baik dari itu. Aku sadar sekarang bahwa ternyata itu bukanlah rasa percaya diri atau optimisme melainkan sebuah keangkuhan. Saya kembali bercerita tentangnya, ia tak berhenti di situ. +1 belajar akan banyak hal, mulai mencoba hal-hal yang orang lain jarang pikirkan seperti mengirim tulisan di koran, menulis di blog, mengirim puisi di sayembara penulisan dan lain sebagainya. Saya harus akui bahwa aku belajar menulis di blog karena +1, seorang sahabat yang sebenarnya "adik" bagi saya. 

Sesuai Quote Arai diatas akhirnya Tuhan memeluk mimpi-mimpinya, meskipun aku hanya berpersefsi tentang mimpinya. Meskipun ia pernah berada pada titik nadir (hanya persefsiku) dalam perjalanan hidupnya dan sempat vakun dalam dunia literasinya, akhirnya ia pun mampu bangkit kembali dan berkarya jauh lebih baik dari sebelumnya. "Dek, sungguh ini bukanlah batu sandungan bagimu untuk berkarya tetapi sebuah garis pembatas dan sekaligus batu loncatan untuk memeluk mimpimu" kata yang ingin kuucap padanya saat itu. Semoga ia mendengar kata yang tak sempat terlisankan itu. 

Aku Bermimpi karena Aku Percaya Tuhan (Mr. F)

Seorang yang berjalan tanpa mimpi bagai seorang paeaut yang berjalan tanpa kompas dan rasi bintang. Mimpi adalah blueprint yang menggambarkan sistematika penggapaian asa. Satu sisi yang saya senangi dari +1 adalah rasa optimisme dan mimpi yang ia bawa tak hanya ia nikmati sendiri. Ia seolah menerapkan kalimat genggamlah tangan sahabatmu ketika ia mencoba bangkit.

Virus-viris mimpi dan rasa optimisme senantiasa menghias setiap tulisan-tulisannya dan semoga virus tersebut dapat menjadi wabah bagi seluruh yang kenal dan pernah kenal dengannya. Aku mulai belajar menulis di blogpun karena terinspirasi dengan tulisan-tulisannya di blognya. Terus tebarkan virus optimisme mu dek!

Thanks God

Aku memiliki banyak sahabat yang punya mimpi besar dan merintis jalan menuju mimpi itu. Aku bahagia dapat bertemu dengan orang-orang seperti +1, Penyuka Bintang, Penemu Kata, Penanda Diam, dan sahabatku yang lain . Akhirnya kau hanya mampu berkata "Syukur aku berada di tengah-tengah sang pemimpi dan pewujud mimpi", aku banyak belajar akan pentingnya rasa optimisme dan tentunya disertai dengan usaha dan doa dari mereka. 




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...