Minggu, 02 Desember 2012

Kunci Kecilku, Sebuah Nama Sebuah Cerita

Ini adalah sebuah cerita tentang kutemukannya kunci surga kecilku. Kunci yang kutemukan tak jauh dari warna ungu tempatku berbaur dengan dunia pengetahuan. Aku mungkin harus menyesal kenapa aku terlambat menemukannya, aku mungkin akan membenci angka 231112. Aku sebenarnya pernah melihatnya sejenak, namun aku tak sadar bahwa itu akan memberiku sebuah perasaan yang tak kutemukan pada objek lain ataukah tempat lain.

Aku dari dulu suka dengan hujan, suka dengan pelangi, suka dengan laut, suka dengan bintang, dan suka dengan gunung. Aku suka hujan karena pelangi tak akan hadir tanpa hujan, hanya dengan hujan sebuah irama rintik akan hadir, hanya dengan hujan kudapat menangis dengan puas tanpa seorang pun yang tahu bahwa air mata telah menetes. Aku suka pelangi karena pelangi hanya hadir setelah gelap menyelimuti langit, hanya karena pelangi bias putih mentari akan menjadi ranah tujuh warna, dan hanya dengan pelangi lengkungan ke bawah akan terlihat indah. Aku suka laut karena hanya di laut gemercik ombak tercipta dengan melodi indahnya, hanya laut yang mampu menenggelamkan angkuhnya mentari dan menggantinya dengan siluet jingga yang menawan, dan hanya laut yang mampu menampung segala resah yang kuingin tuangkan. Aku suka bintang karena bintang hanya akan hadir dalam gelapnya malam dan hanya bintang yang bisa menjadi penuntun bagi pelaut yang tak tahu arah dalam luasnya samudera. Aku suka gunung, tapi entah karena apa. Bagiku kau adalah lebih dari ke semuanya itu.

Kenapa aku mengatakan itu? Jangan tanyakan itu, tapi cobalah lihat apa yang telah kau ubah di diriku. Kau adalah hujanku karena kau telah lahirkan warna, melahirkan melodi dan tempatku untuk meneteskan air mata sepuasnya. Kau adalah pelangiku pengubah bias warna dasarku menjadi lebih beragam dan pengubah lengkungan sedih menjadi lengkungan senyum. Dan kau adalah kesemuanya dari situ dan semuanya dan semuanya. Kan semuanya tak perlu aku jelaskan.

Absurd

Mentari kan selalu indah di awal pagi. Sayap-sayap impian pun selalu mengepak jauh melampaui batas indrawi. Aku menikmati pagiku hari ini, menunggu mentari menjemput gelap. Ah, aku menemukan cahaya dalam gelap. Bukankah itu yang selalu kita cari? cahaya dalam gelap bukan cahaya dalam terang. Iya kan? Aku pun tak tahu kenapa aku rindu akan gelap saat aku mendapat terang, bahkan aku tak pernah merindukan terang. Apakah karena hanya saat gelap aku dapat melihat bintang? Apakah karena hujan tak kan indah jika turun di terangnya siang? Aku hanya mampu berhipotesis dengan semua itu. 

Mungkin, dalam gelap aku bisa melukis wajahmu dalam kanvas dunia khayalku dan dengan kuas imajiku. Kemarin di awal bulan aku telah melukismu dengan kerudung merah, T-Shirt merah dengan jeans putih tulang. Kau terlihat anggun dalam lukisan imajiku itu, senyum alamimu menghias wajahmu pagi itu. Tapi, aku tak mengerti kenapa ada air mata yang menetes? Aku tak tahu kenapa air mata itu bisa hadir. Semoga saja itu bukan karena kesedihan. 

Hari ini aku berharap kita masih bisa bersua entah itu dalam dunia khayal atau dalam dunia lain yang entah apa namanya. Aku tak mau melukismu hari ini sebab kutak ingin ada air mata yang jatuh. Ku ingin kau seperti Dora dan mungkin aku Doraemon. Aku sebenarnya tak begitu faham denagan semuanya, tapi itu terjadi begitu saja. Mungkin karena aliran syaraf dari tanganmu saat menuntunku menuju pintu saat itu yang sampai pada daging kecil dalam tubuhku, atau mungkin karena binar matamu yang penuh tanda tanya saat menatapku, ataukah mungkin caramu menautkan alis padaku? Ah entahlah, tapi yang pastinya bukan karena caramu tertawa seperti apa yang pernah engkau tulis. Ini gila menurutku!

Dora, kau mungkin tak menyadarinya namun sebenarnya ini adalah sebuah kenyataan. Aku tak mungkin menjadi Doraemon seperti apa yang Love Patric panggilkan padaku. Akupun tak ingin menjadi Patric yang memasang wajah lucu hanya untuk sebuah tawa renyah dan garis lengkung di bibir. Satu yang pasti bahwa aku tak ingin ada air lagi yang menetes di pinggir matamu.


#Hahaha,,,, Sebuah tulisan aneh di awal pagi!

Jumat, 30 November 2012

Catatannya

Telah lama sekali aku tak menulis tentang kisah-kisahku, mungkin karena telah berakhir untuk sebuah senyum. Yah, anda dapat berpikir seperti itu. Semuanya mungkin memang telah berakhir, tak ada lagi ikon senyum yang datang setiap mentari menjemput gelap. Aku pun beranjak dari semuanya. Aku menyerah untuk itu. Aku pun menemukan sebuah kalimat dalam sebuah tulisan seorang "Adik" yang bercerita tentang cinta. Katanya seperti ini:

Tahukah anda arti cinta sejati yang sesungguhnya? sebenarnya itu adalah kehampaan. Kalaupun itu hanyalah sebuah kumpulan kata-kata tanpa makna. Inilah sebuah kalimat bijak tentang seorang yang telah dikhianati olehnya.

Aku ingin mengatakan bahwa cinta sejati bukanlah sebuah kehampaan ataukah hanya sebuah tawaran mimpi-mimpi belaka. Aku tak mengerti dan faham secara jelas tentang "Cinta", namun yang kuketahui tentang cinta adalah kebahagiaan, kasih sayang, memberi-menerima dan berbagi. Dia mengatakan itu adalah sebuah kalimta bijak, bagiku bukan. Aku mengatakan bahwa itu adalah sebuah fallacy dalam sebuah pendefinisian yang lahir dari sebuah proses over generalisasi. Bagiku sperti itu.

Ia pun melanjutkannya dengan untaian kata yang sefaham denganku, mungkin dari sini aku mulai mencoba untuk memahaminya bahwa ada sisi terang dibalik sisi gelapnya. Katanya seperti ini:

Walau begitu cinta bersifat relatif, seperti halnya sebuah sungai yang mengalir. Mencari lautan sebagai pelabuhan terakhir.
Dan sesungguhnya…
Cara terbaik dalam memaknai arti cinta adalah dengan memberi. Cinta tidak datang karena manusia saling menerima. Itu ada karena manusia pertama-tama saling memberi, dan akhirnya terbentuklah kata cinta.
Selain memberi, cinta juga memiliki arti di sisi tergelapnya, yaitu memaafkan. Sesungguhnya ini adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia ketika harus memberi maaf. Walau itu harus dilakukan..walau itu harus dimaknai.

Sungai akan mengalir ke lautan. Aku faham tentang hal itu, namun aku tak menganggap bahwa wanita adalah sungai dan laki-laki adalah lautan begitupun sebaliknya. Bagiku itu bukanlah sebuah perbandingan yang layak. Aku pun mulai mengerti tentang arti memberi dan menerima yang kau maksud sebenarnya. Cinta tak hanya terbatas pada wilayah itu, namun ada sisi lain yang mesti difahami yang tak bisa saya jelaskan. Maaf adalah hal yang paling sulit menurutmu, Yah, seperti itulah. Akupun berpikir seperti itu. Aku pun berpikir bahwa maaf tak hanya milik seseorang dan bukan pula kewajiban salah satu pihak. Namun pengertian akan hal tersebut mungkin akan membuatnya terasa mudah untuk diucapkan, namun bukan dalam artian dimudah-mudahkan.

Aku yakin kaupun meragu dengan kalimatmu ini:


Entahlah, yang pasti. Sebagai seorang pria idaman wanita memaafkan setiap kesalahan wanita adalah sebuah tugas dan bukan sebuah hak . Yang perlu kita lakukan sebagai pria adalah cukup membuat cinta sejati terukir di hati paling dalam dan terdingin. Kemudian menunggu dan terus menunggu untuk ditemukan.

Aku katakan kau meragu karena aku yakin bahwa kaupun fahami bahwa rasa pengertian dan perhatian adalah hal yang sangat dibutuhkan, namun akankah hal tersebt hanya menjadi tugas dari sebelah pihak. Akankah jauh lebih indah jika hal tersebut saling difahami? Aku yakin tak akan ada pertengkaran jika itu ada diantara rasa ego yang seringkali hadir dalam hati.

Sebuah pertanyaan yang pernah timbul dibenakku pun kini dipertanyakan. Katanya seperti ini:

Anda tidak percaya cinta sejati?
Itu hal murni karena memang mungkin selama hidup anda tidak pernah menyadarinya. Sesungguhnya cinta semacam itu ada, ada pada setiap sisik di hati anda, ada disetiap mimpi anda dan ada di setiap imaginasi anda.

Aku ingin menjawab bahwa aku percaya dan aku ingin menjawab bukan dengan kata tapi sebuah kepastian, bukan sebuah mimpi dan bukan pula imajinasi.


Catatan pengantar kejenuhan di Sore ini 
 

Kamis, 15 November 2012

"Mooi" Sebuah Nama

Ah, sudahlah aku sudah lelah bermimpi untuk meraihmu kembali. Aku mengatakan bahwa itu hanya mimpi karena kau telah pergi. Kau memang telah pergi, mungkin karena aku dan pasti karena aku. Aku tak menyalahkanmu atas semua kesalahfahaman ini. It's Ok, aku yang salah. Tulisan-tulisan jika kau anggap adalah diriku, maka anggaplah seperti itu. Aku tak bisa menjelaskan semuanya dengan kondisi seperti sekarang ini. Jalani kesibukanmu dan kujalani pula kesibukanku. Aku yang tak pernah memberi ruang untuk kau beri penjelasan padaku atau aku yang tak pernah terbuka padamu. Yah, aku sadari itu. Sepekan lebih aku bergelut dengan sekelumit permasalahan dan kesibukan yang sangat menguras waktu dan pikiran. Aku tak melupakanmu saat itu hanya saja ada hal yang tak bisa saya bagi bersamamu.

Sudahlah, toh kita bersama pernah terbang dan akhirnya kita pun jatuh bersama kembali. Aku pun menulis ini dengan sebuah ketakjelasan entah kau baca nantinya atau tidak. Aku hanya ingin mengatakan "Good Luck for You and Thanks for All". Miss U "Mooi".

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...