Kamis, 31 Agustus 2023
Rabu, 24 Februari 2021
Puisi Lama
Syair adalah salah bentuk puisi lama. Syair dikatakan sebagai puisi lama karena ciri khasnya yaitu memiliki atura yang kaku dalam penulisannya. Syair di dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan tetapi dalam perkembangannya, syair ini telah mengalami perubahan dan modifikasi sehingga syair didesain sesuai keadaan dan situasi yang terjadi.
Syair terkenal sebagai media untuk mengungkapkan isi hati tentang suatu peristiwa, kejadian, seseorang, atau perasaan.
Berbeda dengan pantun yang memiliki sampiran di dua awal barisnya, syair hanya terdiri dari isi dalam empat barisnya. Ciri-ciri syair inilah yang membedakannya dengan pantun dan puisi lama lainnya. Perhatikan contoh berikut:
1) Inilah gerangan suatu madah,
Mengarangkan syair terlalu indah,
Membetuli jalan tempat berpindah,
Disanalah i’tikat1 diperbetuli sudah
2) Wahai muda, kenali dirimu,
Ialah perahu tamsil tubuhmu,
Tiadalah berapa lama hidupmu,
Ke akhirat jua kekal diammu.
3) Hai muda arif-budiman,
Hasilkan kemudi dengan pedoman,
Alat perahumu jua kerjakan,
Itulah jalan membetuli insan.
4) Perteguh jua alat perahumu,
Hasilkan bekal air dan kayu,
Dayung pengayuh taruh disitu,
Supaya
laju perahumu itu.
Jumat, 15 September 2017
Interval
Hahaha, saya kembali memulai tulisanku dengan sesuatu yang sangat absurd, sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya. Hari ini saya berkutat dengan beberapa kesibukan yang sebenarnya tidak bisa saya kategorikan sebagai sebuah kesibukan yang berguna. Sesekali saya buka I Tunes Store hanya sekadar untuk mengecek list of the week musik yang ujung-ujungnya saya tidak pernah beli. Tak lupa pula saya campur dengan menjadi seorang stalker sosial media yang bisa dikata tingkat kekepoannya melebihi Sherlock Holmes dalam novel karangan Arthur Ignatius Conan Doyle. Membuka beranda aplikasi jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg dan menuliskan "S.." di kolom pencarian, seketika nama yang saya ingin kepoin pun terekomendasi.
sudah sembilan bulan atau mungkin lebih, saya mencoba mengikis interval antara kata berani dan takut. Melipatnya menjadi dekat, dan satu hari sebelum hari lahirku yang ke-27, lipatan itu akhirnya menemui titik temunya. Tak ada basa-basi seperti tulisan-tulisanku di blog, mungkin karena ini sifatnya seperti private message. Kukirimkan sebuah pesan kepadanya, singkat, padat, dan masih kurang jelas. Kata tanya pun hadir, dan dengan rasa percaya diripun saya katakan dengan sejelas-jelasnya maksud saya. Namun, butuh satu hari katanya untuk menjawab pertanyaanku. Tak apalah, mungkin saya akan mendapat kabar baik di ahri lahirku.
Harapku. Hasilnya entahlah-entah.
Menunggunya untuk menjadi semestaku adalah pekerjaan yang paling menegangkan bagiku.
Selasa, 22 Agustus 2017
Fobia
Kenangan atau mungkin lebih halusnya bisa kita katakan sebagai masa lalu, kadang mampu memberikan efek psikologis terhadap perspektif kita terhadap sebuah objek. Bunga mawar misalnya yang dulunya kita pandang dari bunganya ketika pernah tertusuk durinya, maka kita akan pandang lebih banyak ke durinya. Inilah yang kadang menutup mata kita, dan bisa saja hati kita sehingga kita akan sulit untuk membuka hati lagi setelah sebelumnya pernah tersakiti. Ahhh,,, kali ini aku kembali banyak berteori yang sebnarnya hanyalah sebuah pembenaran dariku atas ketakberanianku untuk menyatakan apa yang sebenarnya saya rasakan saay ini padanya. Bahkan lewat pesan singkat dan jejaring sosial pun saya tak berani untuk sekadar menyapanya dengan "Hay, Halo" atau semacamnya.
Aku tak ubahnya seperti aku sepuluh tahun yang lalu, yang begitu tak punya nyali untuk sekadar bercerita kepada seorang wanita. Tak ada yang berbeda dari hal itu pada diriku, aku masih menjadi seorang penakut. Bukan karena fobia akan kenangan masa lalu, hanya saja Tuhan menciptakan nalarku sejalan dengan rasa maluku. Tapi, kuyakinkan pada diriku bahwa saya punya keberanian untuk meyakinkan orang tuamu bahwa saya bisa menjadi pendampingmu kelak. :)






