Minggu, 06 Mei 2012

Unsur Demokratisasi Teks Puisi Sajak Anak Muda Karya WS. Rendra (Suatu Tinjauan Sosiologi Sastra)


Unsur Demokratisasi Teks Puisi Sajak Anak Muda
Kenyataan yang digambarkan dalam puisi Sajak Anak Muda adalah kenyataan yang dialami oleh golongan masyarakat yang menderita, yakni kaum buruh dan tani. Penggambarabn kenyataan tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan pertentangan kelas, yakni bangkitnya kaum buruh dan tani untuk melawan kaum borjuis atau kapitalis bahkan pemerintahan.
Teks puisi Sajak Anak Muda adalah sebagai berikut:
  Sajak Anak Muda
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik.
dan tidak diajar dasr ilmu hukum

kita melihat kabur pribadi orang
karwena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
Untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
Untuk menjadi alat saja?

Inilah gambaran rata-rata
Pemuda tamatan S.L.A.,
Pemuda menjelang dewasa

Dasar pendidikan kita adal;ah kepatuahn
Bukan pertukaran pikiran.



Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
Dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan,
Serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
Sebagai kelompok atau sebagai pribadi
Tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang
Gejala-gejala yang muncul jadi lalu lalang
Tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
Menikmati masa bodoh dan santai

Di dalam kegagapan
Kita hanya bisa membeli dan memakai,
Tanpa bisa mencipta
Kita tak bisa memimpin,
Tetapi hanya bisa berkuasa
Persis seperti bapa-bapa kita

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan untuk menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan
Tanpa kegunaan
Menjadi benalu di dahan

Gelap pandanganku gelap
Pendidikan tidak memberikan pencerahan
Latihan-latihan tidak memberikan pekerjaan
Gelap, keluh kesahku gelap
Orang yang hidup di dalam pengangguran

Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tak bisa kita tafsirkan,
Lebih enak kita lari dalam puisi ganja.

Apa artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan
Wajah berdarah
Aku terlihat sebagai bulan.

Mengapa kita harus terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
Dianggap sebagai orang terpelajar,
Tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan,
Dan bila ada tirani yang merajalela
ia diam tidak bicara
kerjanya hanya menyuntik saja

Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
Dianggap sebagai bendera-bendera upacara,
Sementara hukum dikhianati berulang kali
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
Dianggap bunga plastik,
Sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di pusaran tatawarna
Yang ajaib dan tidak terbaca
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan,
Dan bila luput
Kita memukul dan mencakar
Ke arah udara

Kita adalah angkatan gagap
Yang diperanakkan oleh angkatan kurang ajar
Daya hidup telah diganti oleh nafsu
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan
kita adalah angkatan yang berbahaya

                                                            (Rendra, 1977)


Puisi diatas merupakan puisi modern, bukan puisi lama dan bukan puisi baru. Hal ini terlihat dari struktur baris dan baitnya.  Puisi tersebut tediri dari tujuhbelas bait. Seluruh bait dan baris mengungkapkan tema kedudukan .
Bait pertama menceritakan tentang gambaran kehiduypan Indonesia. Di mana para pemuda hanya dijadikan sebagai pemuda yang gagap akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Para pemuda tersebut berada di bawah kekuasaan para kaum kapitalis yang berkuasa. Para pemuda tersebut tidak mengecap yang namanya pendidikan formal seperti layaknya anak muda para kaum penguasa.  Pemuda desa hanya diajarkan membaca dan menulis di sekolah rakyata tanpa diajarkan ilmu politik dan dasr ilmu hukum, sehingga membuat mereka gagap terhadap politik dan tak dapat berpolitik. Hal ini sesuai dengan realita yang terjadi pada saat itu, ketika penjajah berkuasa di negara Indonesia. Pendidikan sngat sulit dinikmati oleh kaum miskin dan kalupun ada kualitas pendidikannya hanya sebatas untuk sdapat tahu membaca dan menulis. Hal ini telah bertentangan dengan unsur demokrasi yaitu adanya persamaan hak antar warga negara.
Pada bait kedua penyair melukiskan sistem pendidikan Indonesia yang belum baik, dimana pelajar atau  pemuda tak diajarkan ilmu jiwa dan fillsafat serta logika sehingga hanya bisa menurut saja dan patuh pada perintah atasan tanpa bisa berpikir lurus dan menyelesaikan permasalahan.

Pada bait ketiga dan keempat penyair mengungkapkan kegalauan hatinya melalui pertanyaan-pertanyaan yang ia ungkapkan lewat puisinya. Penyair merasa apakah pemuda hanya ingin dijadikan alat produksi oleh para kaum kapitalis, Alat produksi yang dimaksud disini adalah tenaga kerja murah. Tenaga kerja murah ini dibekali dengan pengetahuan membaca dan menulis di sekolah rakyat atau SLA dan dijadikan sebagai pegawai rendahan di perusahaan milik kaum kapitalis. Disini kekuasaan kaum kapitalis sangat dominan dan sewenang-wenang yang tentunya telah menyimpang dari prinsip demokrasi, dimana kaum tersebut dapat mengontrol sistem pendidikan yang ada, hal tersebut dimaksudakan agar tak ada pemuda Indonesia yang dapat berpikir untuk melengserkan kekuasaan mereka. 
Pada bait kelima dan keenam penyair mengungkapkan realita yang terjadi pada saat itu yang menggambarkan ketidak relevanan dasar pendidikan yuang diberikan terhadap kebutuhan bangsa. Yaitu sistem pendidikan yang berlaku adalah sistem kepatuhan , dikte atau hafalan, dimana pelajar hanya diajarkan untuk patuh terhadap apa yang diajarkan tanpa diajarkan untuk berpikir dan menguraikan gagasan serta ide. Hal ini sebenarnya tak terjadi pada sekolah-sekolah anak para penguasa, borjuis dan para pejabat, tetapi hanya pada sekolah orang-orang miskin dan orang-orang kalangan bawah.
Pada bait ketujuh dan kedelapan mengungkapkan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang seharusnya didapat di sekolah justru tak di berikan, seperti ilmu keadilan atau ilmu hukum dan ilmu sosial. Hal ini dimaksudkan agar rakyat Indonesia tak sadar bahwa ia sedang ditindas dan diambil haknya. Para rakyat tak diikut sertakan dalam menentukan kebijakan, karena dianggap tak memiliki keilmuan yang memadai dalam hal hukum dan ilmu humaniora. Padahal latar belakng dari ketidaktahuan tersebut berasal dari sistem penduidikan yang mereka buat sedemikian rupa. Setiap permasalahan yang lahir rakyat Indonesia menanggapinya sebagai sesuatu yang wajar dan menumpahkan segala kesalahan pada dirinya. Tanpa menyadari bahwa segala kekacauan yang terjadi merupakan implikasi nyata dari sistem yang dibuat oleh kaum kapitalis.  Keapatisan tersebut akhirnya membawa rakyat Indonesia pada keputusasaan dan sikap santai akan permasalahan yang terjadi pada bangsanya.
Pada bait kesembilan penyair menjelaskan tentang implikasi dari enerapan sistem pendidikan yang anti rakyat, yaitu masyarakat berada pada kegagapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat hanya bisa untuk mengonsumsi tanpa dapat berpikir untuk mencipta, karena tak dibekali dengan pengetahua tentang itu.brakyat tak bisa menjadi seorang pemimpin karena hanya dibekali dengan pengetahuan membaca dan menulis.
Pada bait kesepuluh penyair menjelaskan aerah pendidikan di Indonesia yang seakan dibawa ke sistem pendidikan di Barat, di mana pemuda dipersiapkan sebagi alat industri padahal kenyataan di Indonesia pemuda hanya dijadikan sebagai alat birokrasi yang hanya menyusahkan serta menyengsarakan rakyat. Negara yang seyogyanya memberikan kesejahteraan terhadap rakyatnya justru hanya menjadi beban bagi rakyat. Prinsip demokrasi yng seharusnya negara memberikan kesejahteraan terhadap rakyat tak berlaku lagi, negara hany memberikan kemakmuran bagi kaum kapitalis dan memberikan kesengsaraan bagi rakyat kecil. Kaum kapitalis mendapat perlindungan hukum untuk melakukan penghisapan terhadap rakyat kecil , yang seharusnya mendapat perlindumgan hukum tetapi justru luput dari perhatian pemerintah.
Pada bait kesebelas sampai bait ketigabelas penyair mengungkapkan kebingungan rakyat terhadap realita yang terjadi di sekitarnya, diman para rakyat menjadi seorang pengangguran, karena yang diterima bekerja hanya sebagian kecil. Rakyat merasa bingung karena tak dibekali dengan ilmu pengetahuan yang memadai untuk mencari lapangan pekerjaan yang lebih layak. Hal; tersebut membuat rakyat putus asa dan membawanya untuk menikmati penderitaan tersebut dengan sikap apatis.
Pada baris keempatbelas penyair mengungkapkan kebenciannya terhadap orang-orang yang tunduk pada sistem dan mengabdi pada kaum kapitalis, dimana mereka telah mendapatkan penghidupan serta pekerjaaan yang layak, tetapi bersikap apatis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya. Penyair mengungkapkan keadilan yang seharusnya didapatkan oleh seluruh rakyat justru hanya dinikmati oleh sebagian rakyat yang tunduk dan patuh pada kaum kapitalis.  Begitupun pada bait kelima belas, para kaum penjilat hanya membiarkan ketidakadailan yang terjadi di negerinya padahal  telah memiliki  keilmuan yang cukup untuk melawan ketidakadilan tersebut. 
Pada bait keenambelas penyair mengungkapkan akan sistem demokrasi yang tak terealisasi, yaitu rakyat merasa dalam penjara yang membawa kesengsaraan. Di mana hal tersebut ditutupi dengan sistem yang seakan-akan baik, tetapi sebenarnya membawa rakyat pada kemelaratan. Rakyat tak memiliki pegangan serta pedoman dalam bertindak karena tak memiliki dasar ilmu sosioal dan ilmu hukum untuk melakukan hal tersebut.
Pada bait ketujuhbelas penyair mengungkapkan bahwa sebenarnya para pemuda Indonesia memilki kemampuan untuk melakukan perubahan, tetapi hany dibatasi oleh sistem yang dibuat pemerintah dan kaum kapitalis. Sehingga aspirasi mereka tak dapat mereka salurkan. Padahal dalam demokrasi kekuasaan negara berada di tangan rakyat dan aspirasi rakyat adalah kekuatan terbesar suatu negara. 
"Hanya sekadar pengingat akan perjuangan"

Reaksi:

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...